Kotamobagu, 28 November 2025 – SMA Kristen Kotamobagu mengawali kegiatan sekolah pada hari Jumat dengan apel pagi dan ibadah bersama yang diikuti seluruh murid, guru, dan pegawai. Kegiatan berlangsung tertib dengan pembina apel Timothy Siwu, pemimpin apel Merry Pulingkareng, serta pembawa acara Jesica Rapar.
Dalam arahannya, pembina apel mengingatkan pentingnya ketepatan waktu saat apel pagi serta menjaga kerapian lingkungan sekolah hingga selesai kegiatan belajar mengajar. Beliau juga menekankan bahwa ibadah harus dijalani dengan sungguh-sungguh karena ibadah merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan, bukan sekadar rutinitas. Selain itu, murid diingatkan untuk memperhatikan kebersihan, termasuk segera membuang sampah jika tempat sampah sudah penuh.
Setelah apel selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah bersama yang dipimpin oleh Sir Josua Hengkeng, S.Th, dengan bacaan Alkitab dari Ibrani 6:1–3.
Dalam khotbahnya, Sir Josua menyampaikan pesan tentang pentingnya pertumbuhan iman. Beliau menekankan bahwa seorang Kristen tidak boleh berhenti pada pengetahuan dasar atau fondasi iman saja, tetapi harus terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Pertumbuhan iman tercermin dari bagaimana seseorang tetap teguh dan percaya kepada Tuhan meskipun menghadapi tekanan, perubahan, atau musim kehidupan yang sulit. Beliau juga mengajak seluruh murid untuk memelihara iman yang benar, menjaga komitmen untuk hidup sesuai firman Tuhan, serta tidak mudah goyah ketika berhadapan dengan tantangan—sebab iman yang bertumbuh akan menghasilkan karakter yang kuat, bijaksana, dan mampu menjadi berkat bagi orang lain.
Usai ibadah, Kepala Sekolah Ibu Delma M. E. Lontoh, S.Th, M.PdK memberikan penyampaian terkait pelaksanaan asesmen sumatif yang masih berlangsung hingga hari ini. Beliau berharap setiap murid mempersiapkan diri dengan baik dan tetap mengandalkan Tuhan melalui doa dalam setiap prosesnya. Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya tanggung jawab dalam hal pembayaran administrasi dan berharap komunikasi yang aktif dan berkelanjutan dapat terjalin antara murid, guru, dan orang tua.
Setelah itu, guru dan pegawai juga mengikuti ibadah tersendiri dengan bacaan Alkitab dari Yohanes 8:32, sebagai penguatan rohani dalam menjalankan tanggung jawab pelayanan pendidikan.
